Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengusulkan perundingan langsung tanpa prasyarat dengan Ukraina yang akan digelar pada (15/05/2025) di Istanbul. Usulan ini datang beberapa jam setelah lima pemimpin Barat—dari Ukraina, Prancis, Jerman, Polandia, dan Inggris—mendesak diberlakukannya gencatan senjata 30 hari mulai Senin besok dengan dukungan dari Presiden AS, Donald Trump. Mereka juga mengancam akan memberlakukan sanksi besar terhadap Moskow jika menolak rencana tersebut.
Dalam pernyataannya, Putin tidak secara langsung menanggapi tuntutan gencatan senjata itu, namun mengecam tekanan dari negara-negara Barat dan menyebutnya sebagai “ultimatum” serta bagian dari retorika anti-Rusia. Ia menawarkan agar pembicaraan damai dilanjutkan tanpa prasyarat dan mengusulkan tanggal 15 Mei di Istanbul sebagai waktu pelaksanaan. Putin juga menyatakan akan berdiskusi dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan untuk memfasilitasi pertemuan tersebut.
“Kami mengusulkan agar Kyiv melanjutkan negosiasi langsung tanpa prasyarat apa pun," kata Putin kepada wartawan, seperti yang dikutip dari Al-Jazeera. “Kami menawarkan kepada otoritas Kyiv untuk melanjutkan negosiasi pada hari Kamis, di Istanbul.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Ukraina atas usulan tersebut. Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, telah menyatakan kesediaan berdialog asalkan gencatan senjata diberlakukan terlebih dahulu.
Konflik antara Rusia dan Ukraina yang meletus karena invasi besar-besaran pada Februari 2022, telah menelan banyak korban jiwa dan memicu ketegangan terburuk antara Rusia dan Barat sejak era Perang Dingin. Upaya negosiasi pada awal-awal konflik, termasuk pembicaraan di Istanbul pada 2022 gagal membuahkan kesepakatan damai.
Putin mengatakan bahwa Rusia siap menghidupkan kembali draft perjanjian 2022, yang mencakup usulan agar Ukraina tetap netral dengan jaminan keamanan dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Ia juga menegaskan bahwa bukan Rusia yang membatalkan proses negosiasi saat itu, melainkan Kyiv.
Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia dikabarkan telah mengusulkan berbagai jenis gencatan senjata, termasuk selama perayaan keagamaan dan peringatan kemenangan Perang Dunia II. Namun, Moskow menuduh Ukraina melanggar gencatan-gencatan dengan serangan drone dan rudal. Sebaliknya, Ukraina menyalahkan Rusia atas pelanggaran sepihak terhadap kesepakatan-kesepakatan tersebut.
Pada Sabtu lalu, para pemimpin Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa gencatan senjata harus benar-benar tanpa syarat. Jika Rusia mengajukan syarat, mereka menilainya sebagai upaya memperpanjang perang. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan AS akan memimpin mekanisme pengawasan gencatan senjata jika disepakati, sementara Eropa bersiap menjatuhkan sanksi tambahan jika Rusia melanggar.
Utusan khusus Presiden Trump untuk Ukraina, pensiunan Letjen Keith Kellogg, menyebut rencana gencatan senjata 30 hari sebagai langkah awal menuju perdamaian menyeluruh. Trump sendiri secara terbuka menginginkan peran sebagai pembawa damai dalam konflik ini, berbeda dari pendekatan konfrontatif pemerintahan sebelumnya.
Di sisi lain, Putin memandang perang ini sebagai upaya Barat untuk melemahkan pengaruh Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet, dan menolak permintaan Ukraina untuk bergabung dengan NATO sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Rusia.
Penulis: Laura Inggrit
Sumber Foto: CNBC

0 Comments